Puan - Dalam rangkaian perayaan Hari Perempuan Internasional 2026, SUAKA, organisasi masyarakat sipil yang membela hak pengungsi di Indonesia, dan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia mengangkat profile empat perempuan yang selama ini berdiri bersama pengungsi.
SUAKA dan JRS Indonesia dalam unduhan bersama di akun Instagram masing-masing pada Senin, 9 Maret 2026 menyampaikan bahwa keempat perempuan Indonesia ini mewakili banyak perempuan Indonesia yang peduli menghadirkan sebuah gerakan sederhana, namun bermakna, ajakan untuk Bertalan bersama para pengungsi di Indonesia bersama keduanya organisasi tersebut.
Pengungsi yang dimaksud adalah para pencari suaka dan pengungsi dari luar negeri yang terpaksa meninggalkan negaranya Karena jiwanya terancam untuk dipersekusi karena suku, agama, kebangsaan, kelompok masyarakat tempanya bergabung, pandangan politik, dan tidak bisa kembali ke negara asalnya.
"Mereka hadir tanpa perlu bersuara lantang, tetapi dengan langkah yang pasti menginsipirasi kita bahwa kepedulian dan keberanian perempuan mampu menumbuhkan harapan bagi banyak orang," demikian disampaikan SUAKA dan JRS Indonesia.
Di Indonesia sampai September 2025 ada 11.900 pencari suaka dan pengungsi dari luar negeri di Indonesia dari berbagai negara, yang mana 31 persen dari mereka adalah perempuan.
Keempat perempuan Indonesia yang secara aktif berdampingan dengan pengungsi dari luar negeri berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, mereka adalah Dosen Universitas Islam Negeri Jakarta Fitri, S.H., MR., Ph.D, Kandidat Doktor dari Universitas Monash Anak Agung Istri Diah, Direktur Eksekutif Roshan Learning Center Daisy Wardani dan Sekretaris Skatan Wartawan Online (IWO) Telly Nathalia.
"Ketika perempuan diberi ruang untuk berperan dan memimpin, mereka menjadi kekuata yang mampu menggerakkan perubahan," kata SUAKA dan JRS Indonesia.
SUAKA sendiri dimpimpin oleh seorang perempuan yang memiliki latar belakang advokat, yakni Atika Yuanita Paraswaty. ***
